Mendidik anak dengan cara Islami – bagian II

Melanjutkan pembahasan pertama. Berikutnya setelah anda ajarkan tauhid kepadanya, perlahan namun pasti jangan pula anda lupakan untuk memberikan contoh dan keteladanan. Walau tidak sempurna, mulai ajak ia untuk melakukan ibadah-ibadah wajib seperti sholat lima waktu.

Tak  jadi soal bila ia belum mampu mengikuti semuanya. tetapi perkenalkanlah sejak dini, insya Allah ia akan lebih taat daripada anda ketika ia sudah mampu melaksanakannya sendiri.

Berikan  contoh oleh anda ibadah-ibadah lain, misalnya membaca al-quran, sholat jumat, bersedekah, mengucapkan salam ketika masuk atau keluar rumah, bersua sesama Muslim dan menghindari mengucapkan kata-kata kotor atau umpatan.

Pendidikan  berupa ajakan dan contoh yang dimulai dari rumah merupakan langkah yang sangat baik. Biasakan agar anak merasa mendapatkan apa yang ia butuhkan ketika di rumah, karena suatu ketika jika ia telah dewasa, ia akan mengenal tempat-tempat lain di luar rumah. Apabila rumah tidak menyenangkan baginya, maka anak akan malas untuk berada berlama-lama di rumah.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.

Pendidikan juga tidak boleh dilupakan. sekolah memang tidak menjamin akhlak anak menjadi mulia. tetapi sekolah dapat mengubah pola pikir anak. Anak yang terdidik dengan baik apakah itu pendidikan formal atau bukan, cenderung menggunakan akal, logika dan kebenaran yang biasanya menyingkirkan resiko.

Pendidikan agama adalah sebuah keharusan. Di saat yang bersamaan orang tua hendaknya menanamkan akhlak-akhlak yang baik.

Saat mendidik, hendaknya orangtua dapat bersikap lembut dan santun, memudahkan dan akrab, tidak berkata kasar, berlaku keras dan mendiskusikan dengan cara yang baik. Hindari celaan dan caci maki hingga pukulan. kecuali jika sang anak durhaka dan menganggap remeh perintah orangtua, meninggalkan perkara yang diwajibkan dan melakukan perkara yang diharamkan. Ketika itu diutamakan bersikap namun tidak sampai menimbulkan bahaya.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash RadhiAllahu Anhuma, dia berkata, Rasulullah shallAllah alaihi wa sallam bersabda,

“Perintahkan anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila berusia sepuluh tahun, lalu pisahkan ranjang di antara mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, dishahihkan oleh Al-albany dalam shahih Al-jami, no. 5868)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan