Hukum Islam tentang bela negara – bagian II

Sebelum lanjut, silahkan baca pembahasan bela negara bagian pertama di artikel ini. Jihad  adalah perbuatan mengorbankan harta yang dimiliki, nyawa di badang untuk membela agama Allah. Jaman  dahulu, jihad sangat lekat dengan perang, karena sesuai dengan kehidupan di kala itu. namun jihad sendiri terdiri dari beberapa macam dan tingkatan. Sehingga  jihad ternyata tidak selalu dapat dikonotasikan dengan peperangan yang mematikan.

Namun  dalam konteks bela negara, dapat disebut jihad asal memenuhi beberapa kondisi sehingga menjadi wajib hukumnnya bagi seluruh warga negara.

Pertama. ketika wali al-amr (penguasa,pemerintah) memerintahkan untuk berjihad, maka tidak boleh seorangpun bersikeras untuk tetap tinggal dan tidak ikut berperang kecuali dengan uzur. Allah SWT berfirman dalam QS At-taubah 38-39:

“Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, ‘berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibanding dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika  kamu tidak berangkat untuk berperang niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan memberikan kemudaratan padanya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Kedua, jihad diwajibkan atas rakyat ketika musuh sudah mengepung negeri kita, yakni musuh datang kemudian masuk ke suatu negeri dan mengepungnya, ketika itu jihad menjadi fardu ‘ain bagi setiap orang penduduk negeri itu yang mampu untuk membela negaranya, sekalipun para wanita atau orang tua. Karena ini adalah perang pembelaan, bukan perang dalam arti penyerangan untuk menguasai wilayah.

Ketiga, apabila telah memasuki barisan perang dan kedua pasukan telah bertempur, maka jihad ketika itu menjadi fardu ain, tidak boleh bagi seorangpun untuk berpaling. hal ini ditegaskan oleh Allah dalam QS Al-anfal: 15-16. yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur), barangsiapa yang mundur di waktu itu kecuali berbelok (untuk siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.

Keempat, ketika manusia membutuhkan kepada orang yang mampu menggunakan senjata, dalam posisi tak ada seorangpun yang mengetahui cara penggunaan senjata baru tersebut kecuali seorang saja, maka menjadi fardlu ‘ain bagi dia untuk berjihad meskipun tidak diperintahkan oleh pemimpin negara karena ia dibutuhkan. Namun tentu harus ditimbang baik dan buruknya, sebelum diputuskan haruslah dibedakan antara jihad membela negara dengan membela penguasa.

Dengan uraian di atas jelaslah sudah bahwa membela negara adalah bagian dari jihad, karena merupakan tindakan untuk membela apa yang menjadi haknya dan menyelamatkan nyawa dari ancaman orang lain.

Dan apabila unsur-unsurnya telah dipenuhi, maka jihad atau membela negara dapat menjadi wajib hukumnya bagi siapapun tanpa terkecuali.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan