Pelajaran hidup, bahwa kematian bisa datang kapanpun

Ada seorang pemuda di Damaskus yang berencana meninggalkan negaranya untuk menuntut ilmu. Ibunya sangat senang dan mendukungnya. Dia menafkahinya sendirian dengan kerja keras dan keringat darah. Akhirnya, dia merasa bahwa setelah semua kerja keras terbayar lunas, dia bangga dengan anaknya yang mau menuntut ilmu setinggi mungkin.

“Ah, kegembiraan menjadi ibu!” katanya pada dirinya sendiri. Ia menatap pria kecil itu, yang pernah berpegangan pada gaunnya memohon untuk diajak pergi bekerja. Dia mengingat hari-hari ketika dia masih kecil dan tidak berdaya, namun di sanalah dia – memulai sebuah perjalanan untuk menjadi pria yang kelak mengangkat derajatnya.

Penerbangan pemuda tersebut dijadwalkan berangkat pagi-pagi sekali, sehingga sejak subuh ibunya menyiapkan makanan dan semua yang dibutuhkan untuk perjalanan panjang anaknya. Pengorbanan itu menunjukkan kasih sayang ibu untuknya teramat besar.

Pagi itu, sebelum anaknya berangkat dia mendengar kabar bahwa ada badai yang kemungkinan mengganggu penerbangan anaknya. Karena takut terjadi sesuatu pada anaknya dalam perjalanan, dia memutuskan untuk tidak membangunkannya. Sebagai gantinya dia pergi lebih awal untuk pasar. Ia ingin mengejutkannya dengan makanan kesukaannya nanti untuk sarapan.

Sekembalinya, dia memanggil anaknya dengan rasa gembira – karena dia memiliki beberapa jam lagi bersamanya sebelum dia melanjutkan perjalanan. Tapi tak ada sahutan dari anaknya meski sudah dipanggil beberapa kali. Ternyata Allah berkehendak lain, Ia telah memanggil jiwanya dalam tidur pagi itu.

Allah Ta’ala berkata: Katakanlah (kepada mereka): Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan