Kisah pria yang berpesta saat anaknya mati

Sedih adalah perasaan manusiawi yang sudah semestinya menghinggapi setiap insan di dunia ini. Tapi sedih yang berlebihan justru dilarang oleh Allah. Apalagi jika kesedihan disebabkan oleh urusan dunia, maka sepatutnya kita merasa sedih oleh ancaman azab yang menanti kita di akhirat kelak.

Beberapa di antara kita galau karena masalah dompet, kemewahan hidup dan tagihan. Barangkali, itu adalah peringatan dari Allah agar lebih pandai dalam mengelola keuangan dan menahan nafsu akan kemewahan yang menipu. Atau, bisa jadi yang menjadi sebabnya adalah jarangnya diri berinteraksi dengan sejarah Nabi, sahabat, tabi’in, pengikut tabi’in dan ulama’ yang takut kepada Allah Ta’ala.

Sebab, kisah mereka adalah cerita yang paling baik dan paling banyak hikmahnya bagi siapa yang mau menimbanya. Mereka adalah teladan yang namanya senantiasa harum dalam perbincangan sejarah manusia hingga akhir zaman.

Bila kita merasa bosan dengan hidup dan sempat terlintas untuk mengakhirinya dengan cara yang tidak tehormat, mungkin karena tidak akrabnya kita dengan kisah mujahidin di berbagai belahan dunia.

Karena dari merekalah kita belajar ketegaran, keteguhan, semangat, pantang menyerah, dan berharap hanya kepada Allah Ta’ala semata. Itulah sumber kekuatan; sehingga mereka menjadi sosok yang jarang mengeluh apalagi meratap, meski hidup dalam keterbatasan finansial.

Maka, tengoklah sejenak ke Gaza, Palestina. Belajarlah keteguhan ribath pada Hamas. Mereka yang bisa berjalan tegak meski diblokade puluhan tahun oleh Zionis terlaknat. Mereka bisa lakukan itu, sebab yang menjadi sandaran adalah Allah Ta’ala; hari-hari mereka habis dalam kesibukan menghapal al-Qur’an yang mulia.

Seorang ikhwan di Afghanistan adalah cerita di tempat lain dalam konteks yang sama. Suatu hari ia bertutur kepada Dr Abullah Azzam tentang sahabatnya yang rumahnya hancur karena bom.

Dalam kejadian itu, anaknya ikut wafat, insya Allah syahid. Anehnya, selepas itu dirinya justru menyembelih kambing dan mengundang mujahidin lainnya untuk melakukan syukuran.

“Mengapa kau melakukan ini, padahal rumahmu hancur dan anakmu menjadi korbannya?” Tanya salah seorang sahabatnya.

“Aku melakukan ini,” lanjutnya tegar, “sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala.” Sebab, tutupnya mengisahkan, “Dia hanya mengambil salah seorang dari anakku dan meninggalkan sisanya bagiku.”

Itulah di antara potret ketegaran di medan jihad. Mereka menyambut kematian dengan senyum, sebab yakin bahwa Allah Ta’ala akan member ikan ganti yang terbaik atas semua pengorbanan yang mereka lakukan.

Maka, pikirkan dan kejarlah akhirat; agar dunia tidak membuat kita galau dan nestapa.

Sumber: kisahikmah.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan