Perbedaan Qada dan Qadar serta pandangan Islam

Pembaca yang budiman, bila menelaah kedudukannya, Qada dan Qadar merupakan salah satu ketentuan Allah yang termasuk ke dalam rukun iman. Yang  artinya kita belum dikatakan menjadi muslim yang beriman apabila tidak meyakini Qada dan Qadar dari Allah. Percaya dan beriman kepada Qada dan Qadar berarti kita harus meyakini sepenuhnya bahwa ketentuan ini adalah benar adanya dan datang dari Allah.

Terdapat banyak dalil yang menjelaskan tentang Qada dan Qadar, tetapi penafsiran di kalangan ulama sendiri terdapat beberapa perbedaan.

Qada berarti penciptaan, Qada dapat diartikan sebagai perbuatan atau kehendak Allah dalam menciptakan dan menjadikan segala sesuatu di dunia berjalan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan-nya. Dalam  beberapa referensi buku maupun literatur, Qada dipilah menjadi dua, yang pertama Qada Muallaq dan kedua Qada Mubram atau Mubrom.

Qada Muallaq diartikan sebagai kehendak Allah yang masih dapat diubah selama manusia berusaha untuk mengubahnya, tentu saja dengan usaha dan doa. Sedangkan  Qada mubram adalah kehendak Allah yang tidak dapat diubah-ubah lagi tak peduli seberapa keras usaha yang kita lakukan.

Sedangkan Qadar diartikan sebagai ketentuan atau peraturan. bagi masyarakat awam, inilah yang sering disebut sebagai takdir atau nasib. Qadar merupakan ilmu pengetahuan Allah tentang hamba-hamba-nya. Segala  hal yang telah, sedang, dan akan terjadi telah tertulis dalam kitab lauhul mahfuz sejak zaman sebelum manusia diciptakan hingga kiamat. Kitab  lauhul mahfuz inilah yang menjadi suratan takdir seorang manusia, tentang kelahiran, perjalanan hidup, dan kematian tiap-tiap hamba-nya.

Dalam Quran surat Al-fuhshilat ayat 10 Allah berfirman yang artinya

Dan dia tentukan makanan-makanan bagi (penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk mereka yang memerlukannya.” (al-fuhshilat:10)

Selain  itu terdapat pula beberapa dalil dalam Al-quran yang menyinggung soal takdir. Di  antaranya dalam Quran surat Yunus ayat 61 yang artinya.

Tidak  luput dari pengetahuan tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak  ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh). (QS Yunus:61)

Kemudian  di dalam surat Al an’am ayat 59.

Artinya: dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfudz)” (QS al-an’am :59)

Al-hadid ayat 22.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS al-hadid: 22)

Dari ayat-ayat di atas dapat kita simpulkan satu hal, bahwa segala sesuatu yang meliputi takdir, musibah, dan segala kejadian yang akan, sedang dan sudah terjadi telah dicatat oleh Allah zat yang maha sempurna.

Keterangan lain juga terdapat dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya.

“Dari abu abdul rahman abdullah bin mas’ud berkata, Rasulullah telah bersabda dan ia adalah orang yang benar lagi dipercaya: sesungguhnya setiap kamu dihimpunkan dalam perut ibumu selama 40 hari berupa air mani, kemudian dikirimkan kepadanya seorang malaikat yang ia menghembuskan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah dia akan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tiada tuhan selain dia, sesungguhnya salah seorang di antara kamu akan beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dia dan surga hanya sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab, lantas ia mengerjakan amalan ahli neraka lalu dia memasuki neraka. dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu akan beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh ketentuan tulisan kitab, lantas ia mengerjakan amalan ahli surga lalu dia memasuki surga.

Dari  uraian di atas kita sepakat bahwa Qada dan Qadar adalah dua hal yang berbeda, namun keduanya selalu disebut secara bersamaan termasuk di dalam rukun iman umat Islam.

Hal  ini menunjukkan bahwa keduanya mempunyai kedekatan hubungan atau saling berkaitan karena merupakan urutan proses antar kejadian.

Perbedaan Qada dan Qadar dapat kita tarik dari uraian-uraian di atas. yang pertama, Qadar merupakan takdir yang tidak dapat diubah-ubah lagi oleh manusia, sedangkan Qada disebut sebagai kehendak Allah dalam memenuhi takdir yang di tengah jalan masih bisa diubah dengan usaha dan doa.

Pandangan tersebut diambil dari firman Allah dalam QS As-shaffat ayat 96 yang artinya.

Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian.” (QS as-shaffat: 96)

Ayat ini menjelaskan bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini telah digariskan oleh Allah, bahkan termasuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia entah itu sebuah keburukan atau kebaikan. tetapi takdir Allah bukanlah sebuah keburukan, melainkan dikarenakan perbuatan manusia itu sendiri.

Sedangkan Qada merupakan kehendak Allah yang apabila Allah inginkan terjadi pada seseorang atau suatu umat, pasti terjadi. meski ada hal-hal yang tak bisa diubah dari takdir kita, Allah memastikan bahwa dengan usaha dan tawakkal kita kepada-nya, dia akan memberi kita yang terbaik dari usaha kita itu. semua dapat kita lihat pada firman Allah yang tak mungkin salah sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S Ar-rad: 11)

Keterangan lainnya diabadikan oleh Allah dalam Quran surat An-najm ayat 39-40 yang artinya.

“Dan bahwasanya seseorang itu tidak memperoleh selain apa yang diusahakan. dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya, kemudian akan diberi balasan yang paling sempurna.” (q.s an-najm: 39-40)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa ada ketentuan yang bisa kita usahakan, bahwa dengan berusaha barulah kita bisa mencapai hal yang kita cita-citakan. contohnya adalah rezeki. apabila kita menghendaki untuk mendapat rezeki yang lebih banyak, maka kita harus berusaha bekerja dan mengusahakan sesuatu untuk mendapat tambahan rezeki.

Diolah dari berbagai sumber

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan