Kisah profesor jenius yang masuk Islam karena mimpi aneh

Kisah hidayah yang mendatangi orang-orang non-muslim sangat menarik untuk diulas, karena mampu menggugah kembali semangat kita untuk meraih hidayah dan keberkahan. Satu lagi kisah mualaf yang patut untuk diceritakan, kisah tentang profesor mate-matika yang berjumpa dengan Tuhan.

Jeffrey Lang suatu malam bermimpi aneh. Ia bermimpi bersimpuh di hadapan Tuhan. Tapi ia bersimpuh dengan cara yang anah, ia berdiri, kemudian membungkuk, berdiri lagi, kepala menyentuh lantai, hingga duduk di atas tumit. Selain dirinya, di ruangan itu juga beberapa orang yang berdiri rapi dalam barisan. Jeffrey sendiri ada di barisan ketiga. Di sana ada pemimpin barisan yang mengenakan kain putih di kepala dengan motif berwarna merah.

Bukan sekali, melainkan berkali-kali Jeffrey memimpikan hal yang sama selama 10 tahun menjadi orang yang tak beragama atau atheis. Tapi, karena logikanya terlalu kuat, ia abaikan begitu saja dan kembali tenggelam dalam kesibukan.

Kurang lebih dua puluh tahun setelah mimpi pertamanya, Jeffrey telah bekerja sebagai dosen di University of San Fransisco. Di Universitas itulah ia berjumpa dengan Ghassan, seorang pemuda muslim yang juga adalah mahasiswanya.

Suatu hari, Ghassan memberinya hadiah sebuah mushaf Al Qur’an yang berisikan terjemahan Al-quran. Di saat itulah, Jeffrey mengenal Islam lebih dalam, di mana ia merasa tertantang untuk mempelajarinya.

“Sejak awal, buku ini menantang diriku,” kata Jeffrey mengenang saat-saat itu. Agaknya ia membaca ayat kedua surat Al Baqarah: “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Jeffrey secara berkelanjutan membaca isi Al Qur’an. Dalam prosesnya, ia mendapati sebuah keanehan, di mana setiap kali ia meragukan isinya, ayat berikutnya selalu memberi jawaban secara logis. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku,” kenangnya.

Perlahan tapi pasti, Jeffrey mulai mendapatkan keyakinan bahwa kitab yang ia pegang bukan kitab biasa, karena melampaui apa yang ada di benaknya. Tampaknya hidayah sudah merasuki jiwabany.

Dan hidayah itu semakin jelas terpampang, ketika ia melihat sejumlah kecil mahasiswa muslim sedang beribadah di dekat apartmennya. Karena kesulitan mendapatkan tempat yang suci, mereka menggunakan basement itu.

Jeffrey melihat mereka berbaris rapi. Berdiri bersama, menunduk bersama, lalu berdiri lagi, kemudian bersujud, dan duduk bersimpuh di atas tumit. Jeffrey ingat sesuatu. Terlebih setelah ia melihat di depan mereka ada seseorang yang memimpin mereka beribadah, memakai penutup kepala putih dengan motif berwarna merah. Rupanya itu Ghassan. “Ini mimpiku!” teriak Jeffrey dalam hati. Ya, pemandangan itu persis seperti mimpinya yang berulang beberapa kali beberapa tahun silam.

Jeffrey tak kuasa menahan tangis haru. Hatinya penuh damai. Ia tersungkur bersujud.

Singkat cerita, profesor Matematika ini kemudian masuk Islam. Ia lalu berdakwah melalui mimbar ilmiah dan menulis sejumlah buku. Diantaranya Struggling to Surrender (1994), Even Angels Ask (1997) dan Losing My Religion: A Call for Help (2004). [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan