Kisah Imam al-Bukhari yang diam-diam membuang sampah dari masjid

Pesona akhlak terpancar dari dalam diri orang-orang yang shalih, yang menjaga diri dari maksiat dan selalu menjaga keimanan. Akhlak di orang-orang seperti ini bak mata air yang menyejukkan kala zaman kian mendekati akhir, kala neraka kian memanas dan siap memanggang para kafir. Bahkan kisah-kisah mereka saja sudah sangat menyejukkan jiwa-jiwa manusia yang hidup.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menceritakan kembali sebuah kisah ketajaman mata hati Imam al-Bukhari yang mengabdikan diri merangkum dan mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam sebuah kitab monumental.

Imam al-Bukhari sedang mengisi pengajian rutin bersama jamaahnya. Jamaah yang hadir sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya. Melimpah ruah. Dari sekian banyaknya jamaah, Imam yang senantiasa mendirikan shalat dua rakaat saat ingin memasukkan hadits ke dalam kitabnya ini melihat salah satu jamaahnya.

Ia melihat jamaahnya itu membuang rempah-rempah bekas makanan di jenggotnya ke lantai masjid tanpa merasa ada yang salah atau bahkan bersalah.

Selepas menyelesaikan kajian, Imam berjalan mendekati tempat di mana laki-laki tersebut duduk sambil memperhatikan jamaah lain yang berada di majlisnya itu. Cukup lama ia menunggu, sampai tiada satu orang pun yang memperhatikan dirinya.

Saat tidak ada satupun orang di dekatnya, beliau mengambil rempah-rempah yang dibuang di lantai masjid, lalu memasukkannya secara perlahan dan tersembunyi di lipatan lengan bajunya. Rupanya, teladan terkait ketajaman hati ini ditangkap oleh penglihatan Imam Muhammad bin Manshur sampai Imam al-Bukhari keluar masjid, lalu membuang sisa makanan tersebut di tanah.

Di akhir zaman ini, situasinya akan jauh berbeda. Sekarang saja, kita mudah menemukan kebiasaan yang bertolak belakang dengan tauladan diatas. Di mana pun ada pengajian, taklim, atau pertemuan kaum Muslimin lainnya dalam sebuah ritual ibadah, seperti shalat Idul ‘Adha dan Idul Fitri, di sana kita temukan sampah yang tertinggal.

Dikarenakan tempat sholat untuk jamaah tidak cukup, maka sebagian besar jamaah laki-laki dan perempuan menggotong koran dari rumah atau didapat dari tempat lain. Mirisnya, setelah shalat selesai, mereka meninggalkan alas tersebut begitu saja, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Pun dalam aktivitas-aktivitas lain yang melibatkan pesarta dalam jumlah yang banyak. Hampir tiada bekas yang ditinggal, kecuali sampah yang bertebaran dimana-mana. Sedih kan?

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan