Kisah bermodal tahajud, wawancara kerja jadi lancar jaya

Pagi itu, Ahmad senang karena penantiannya berakhir sudah. Ia mendapatkan panggilan interview atas lamaran yang ia ajukan beberapa minggu yang lalu. Jam 11 siang besok ia harus sampai di tempat.

“Nanti malam, jangan lupa tahajud… Insya Allah dimudahkan Allah urusanmum Mad,” Pesan nenek kepada Ahmad.

Tanpa membantah, ia atur alarm supaya bisa bangun untuk tajajud. Selepas tahajud, ia langsung pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Subuh berjama’ah yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah.

Sesuai subuh, tanpa tidur, Ahmad langsung mandi dan mempersiapkan diri. Sambil membereskan perlengkapannya, Ahmad sibuk menata hati, karena ini adalah wawancara pertama. Jadi, wajar jika ia merasa sangat gugup. Menaiki bus, tibalah ia di Arion Jakarta Timur, tempat yang ia tuju.

Sudah jam 11, ia sempat ragu meneruskan interview itu atau pulang saja. Rasa gelisah san gugup membuatnya gamang tingkat dewa. “Masih ada waktu, mungkin belum terlambat,” akhirnya ia memutuskan untuk tetap memenuhi undangan itu. Bergegas ia pindah kendaraan, naik bus yang berbeda.

Di dalam bus, ketika Ahmad duduk sambil melihat-lihat takut kantor yang ia tuju terlewatkan, ia melihat seorang pria naik ke bus dengan wajah yang terlihat lelah. Tetapi karena bus sudah terisi penuh, pria itu terpaksa berdiri sambil berpegangan pada salah satu kursi.

“Silahkan duduk di sini, pak” Kata Ahmad memberikan tempat duduknya.

Semula, laki-laki itu menolak. Tapi melihat ketulusan sang pemuda, ia menerima kebaikan pemuda itu. “Terima kasih, Dik”

“Sama-sama. Mau ke Mana, Pak?”

“Jalan Thamrin.”

“di Wisma Nusantara” tambahnya sebelum Ahmad mengajukan pertanyaan lagi.

“Sama kita pak, saya juga mau ke sana”

“Oh, ada urusan apa?”

“Ada wawancara Pak. Tapi agak terlambat sepertinya.”

“Panggilan kerjanya di lantai berapa?”

“Belum tahu pak, nanti di sana baru mau tanya”

“Saya sebenarnya kerja di sana juga, tadi ban mobil saya bocor. Nunggu taksi kelamaan, akhirnya saya putusin naik bus saja. Nanti saya temenin.”

Sesampainya di Wisma Nusantara. Ahmad kaget, karena ternyata ada ratusan orang yang juga mendapatkan undangan seperti dirinya.

“Coba lihat surat panggilannya Dik”

“Silahkan, pak.” Sembari menyerahkan undangan yang diminta.

“Lho, ini kan tanda tangan saya.”

Ahmad masih bingung dan juga kaget. Setelah ia cerna pelan-pelan, ternyata laki-laki yang ia jumpai di bus tadi adalah orang yang mengundang dirinya untuk wawancara.

Benar kata nenek, urusannya dimudahkan Allah kalau diawali dengan namaNYa.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan